June 14, 2020

Bagaimana Diklat Persib Bandung Lahirkan Tim Junior Paling Sukses Di Indonesia

Persipura memang masih menjadi klub tersukses Indonesia sejak era Liga Indonesia (1994). Empat gelar juara kasta tertinggi jadi bukti betapa superiornya Mutiara Hitam di antara pesaing lainnya.

Banyak yang beranggapan bahwa Papua yang merupakan tempat asal Persipura adalah penghasil bakat-bakat terbaik. Namun demikian, berbicara prestasi di level kompetisi junior, Persipura masih kalah oleh Persib.

Persib, Bandung, dan Jawa Barat adalah tiga unsur yang tidak bisa dipisahkan dalam hal prestasi Pangeran Biru . Di level senior, Persib sudah meraih dua trofi juara. Sementara di level junior, tiga trofi juara sudah menghiasi lemari trofi Pangeran Biru sejak kompetisi Liga Indonesia level junior (Liga Indonesia U-23) berjalan pada 2006.

Belum lagi jika gelar-gelar Persib junior ditambah trofi juara dari Piala Soeratin. Maka Maung Ngora sudah memiliki enam trofi juara. Jumlah itu mengalahkan pesaing terdekatnya yakni Persija dan Persebaya dengan masing-masing empat gelar juara sejak Piala Soeratin digelar pada 1965.

Sinergi menjadi kunci sukses Persib dalam membangun tradisi juara di level junior. Sebagai klub paling dipandang di Jawa Barat, Persib selalu bekerja sama dengan PSSI Kota Bandung dan PSSI Jawa Barat yang merupakan tempat Persib bernaung.

Sejak era profesional pada 2008, Persib terpaksa mandiri sehingga statusnya pun setara dengan PSSI Kota Bandung dan PSSI Jawa Barat. Sejak era profesional pula, Persib mencoba membangun embrio- embrio pesepakbola andal dengan membentuk Diklat Persib, pada 2008.

Seiring berkembangnya zaman dan teknologi sains olahraga, Persib terus melakukan inovasi. Salah satu terobosan terbaru adalah membuat Akademi Persib, bekerja sama dengan tim raksasa dunia asal Italia yakni Inter Milan, pada 2018 lalu.

Dengan memadukan kurikulum dari Inter Milan dan Filosofi Sepakbola Indonesia (Filanesia), Akademi Persib memiliki visi yang unik. Menurut Direktur Teknik Akademi Persib, Kartono Pramdhan, bahwa banyaknya pemain yang disalurkan ke tim utama Persib dan tim nasional Indonesia menjadi kebanggaan lebih dibanding dengan meraih banyaknya jumlah trofi juara di level junior.

“Akademi Persib memadukan kurikulum dari Inter dan Filanesia. Kami juga di sini sangat mengandalkan sport science dalam mendidik pemain dengan bekerja sama dengan akademisi dari UPI (Universitas Pendidikan Indonesia),” ujar Kartono.

“Ke depan, kami lebih bangga jika banyak jebolan Akademi Persib mampu bermain di tim utama Persib dan pastinya tim nasional. Itu lebih baik ketimbang mengejar banyaknya trofi karena di level usia dini adalah tahap pengembangan bukan semata-mata mengejar trofi juara,” kata Kartono menambahkan.

Akademi Persib yang sudah berjalan dua tahun, kini tersebar di 12 kota dan kabupaten se-Jawa Barat. Bandung, Cimahi, Cianjur, Tasikmalaya, Banjar, Pangandaran, Cirebon, Majalengka, Kuningan, Bogor, Cianjur, dan Bekasi kini menjadi tempat Akademi Persib membina siswa-siswanya.

Untuk kelompok umur, Akademi Persib memiliki empat level yakni kelompok usia 8-10 tahun, 11-13 tahun, 14-16 tahun, dan 17-18 tahun. Dengan memiliki empat level kelompok umur dan tersebar di 12 wilayah sejauh ini, Akademi Persib merupakan akademi terbesar yang dimiliki klub profesional Indonesia.

“Kami sudah tersebar di beberapa kota dan memiliki empat level kelompok umur. Siswanya pun tak hanya laki-laki tapi sudah ada yang perempuan. Kami pasti berharap para siswa bisa menjadi pesepakbola papan atas kelak tapi paling tidak jika mereka tak jadi pesepakbola, mereka memiliki karakter yang baik karena di Akademi Persib, kami juga coba membentuk karakter pemain selain diajarkan teknik-teknik,” ujar Kartono.

Sejauh ini, memang buah dari pembinaan Akademi Persib belum terlihat nyata. Akan tetapi dengan masuknya Dimas Juliono Pamungkas di Timnas Indonesia U-16 mampu menjadi titik awal kesuksesan Akademi Persib dalam menelurkan talenta hebat untuk sepakbola Indonesia.

“Saya berasal dari Akademi Persib Tasikmalaya. Kemudian dipantau dan masuk ke tim Akademi Persib gabungan dari semua daerah. Dari situ saya bermain baik dan ditawari masuk Diklat Persib untuk Elite Pro Academy. Barulah saya terpantau oleh staf pelatih Timnas U-16. Jadi saya memang generasi pertama Akademi Persib dan dari karier saya sampai timnas U-16 berangkat dari Akademi Persib,” ujar Dimas.

Meski kini Persib memiliki Akademi Persib, Maung Bandung tak lantas melupakan klub-klub internal yang sebelum era-profesional menjadi penyumbang pemain terbesar. Menjelang digelarnya kompetisi Elite Pro Academy, Persib masih sering melibatkan pemain dari beberapa Persatuan Sepakbola (PS) di bawah naungan PSSI Kota Bandung.

Tak hanya dari Bandung, Persib juga masih memantau beberapa pesepakbola muda berbakat di daerah Jawa Barat lainnya. Indra Mustafa dan Mario Jardel menjadi beberapa contoh pesepakbola muda asal Bogor yang sedang meniti karier di Persib.

“Kami masih bersinergi dengan PS-PS yang ada di Kota Bandung meski kami punya Akademi Persib. Jika memang punya kemampuan baik dan sesuai dengan keperluan tim, pasti akan kami libatkan di Diklat Persib untuk Elite Pro Academy,” ujar General Manager Diklat Persib, Yoyo S. Adireja.

Tak hanya di Jawa Barat saja, Diklat Persib bahkan sudah banyak mengakomodir pemain-pemain luar Jawa Barat. Beberapa contohnya adalah kapten Persib U-19 saat menjuarai Liga 1 U-19 2018, Syafril Lestaluhu asal Maluku dan kiper Tim Garuda Select, Erlangga Setyo asal Jawa Tengah.

“Kami pasti akan kembangkan terus Akademi Persib dan juga memantau bakat pesepakbola muda hebat seluas mungkin termasuk dari luar Jawa Barat. Tegal dan Yogyakarta, bisa jadi Akademi Persib akan buka di sana karena sudah ada yang berminat,” ujar Yoyo.

Struktur pembinaan pemain muda Persib memang menjadi yang paling rapi dan tergorganisir dibanding tim-tim profesional Indonesia lainnya. Selain diklat dan akademi, Persib juga memiliki dua jenjang lainnya yakni Maung Anom (U-21) dan Bandung United ( reserve team ) yang kini sama-sama bermain di Liga 3.

Peran Maung Anom dan Bandung United dianggap perlu dan penting sebagai penopang tim utama Persib, layaknya Barcelona B dan C pada tim utama Barcelona. Pasalnya kedua klub itu menjadi inkubator untuk mematangkan jebolan Diklat Persib yang dianggap belum siap terjun ke Liga 1. 

Melihat keseriusan Persib dalam membina pemain muda, maka tidak heran banyak didikannya tersebar di banyak tim peserta Liga 1. Tak hanya itu, di level timnas, banyak pesepakbola yang berangkat dari Persib. Baik itu liga internal Persib, Persib junior, Diklat Persib, bahkan Akademi Persib.

Jika melihat tim nasional saat ini di semua kelompok umur, semuanya punya pemain didikan Persib. Dari Andritany Ardhiyasa (yang pernah dipinjam dari Diklat Ragunan oleh Persib), di timnas senior hingga Muhammad Valeron di timnas U-16, Persib masih meneruskan tradisi dalam menyumbangkan pemain ke tim nasional.