Bos Liverpool Jurgen Klopp Pernah Ditolak Hamburg Karena Penampilan Urakan
Sebuah kisah menarik yang melibatkan Jurgen Klopp pernah terjadi pada 12 tahun lalu ketika Hamburg berupaya untuk mempekerjakannya sebagai pelatih.
Klopp pada akhirnya memang batal menukangi Die Rothosen, tapi alasan mengapa ia dicoret terbilang unik: petinggi Hamburg tidak terkesan dengan karakter dan penampilan Klopp yang terkesan urakan.
Cerita tak lazim tersebut bermula ketika Hamburg mencari pelatih baru pada awal 2008 setelah Huub Stevens memutuskan mundur dari jabatannya di akhir musim 2017/18.
Empat pelatih masuk dalam pantauan Hamburg. Ada Klopp yang waktu itu masih melatih Mainz, Fred Rutten (PSV Eindhoven), Christian Gross (Basel), dan Bruno Labbadia (Greuther Furth).
Dua petinggi Hamburg, CEO Bernd Hoffmann dan CMO Kakja Kraus, mengaku terkesan dengan Klopp, tapi tidak demikian halnya dengan direktur olahraga Dietmar Beiersdorfer.
Beiersdorfer, yang masih ragu dengan karakteristik Klopp, mempekerjakan pemandu bakat untuk memantau keempat calon pelatih itu. Bak mata-mata, mereka diminta untuk mengamati pelatih dari pagi hingga sore hari.
Setiap kandidat pelatih dievaluasi memakai poin berdasarkan sejumlah hal, yakni metode latihan, taktik, motivasi, ketepatan waktu, pakaian dan penampilan, interaksi dengan suporter dan jurnalis. Hasilnya, Rutten mendapat poin tertinggi, sementara skor Klopp termasuk rendah.
Beiersdorfer juga kurang sreg dengan Klopp setelah mendengarlaporan dari pemandu bakat. Misalnya, Klopp dipanggil “Kloppo” oleh pemainnya di Mainz. Ia juga diduga merokok, kerap telat masuk latihan, dan memimpin timnya dengan jenggot lebat dan mengenakan celana denim sobek.
“Celana denim yang dikenakannya tidak mendapat sambutan baik dari direktur Hamburg. Kami membuat keputusan bahwa menunjuk Jurgen Klopp bukan ide yang bagus untuk kami,” kata Hoffmann kepada Sport Bild.
Mengetahui dirinya dicoret dari kandidat pelatih Hamburg karena alasan tersebut, Klopp mengaku geram. Ia mengakui dirinya merokok, tapi membantah kalau dia kerap telat saat latihan. Soal panggilan ‘Kloppo’, Klopp mengaku tidak tersinggung karena ia memang menganggap para pemainnya sebagai teman.
Klopp pun merasa Hamburg tidak menghargai dirinya. “Kalau masih ada ketertarikan, saya cuma ingin bilang: tidak, terima kasih. Jangan telepon saya lagi. Saya adalah pelatih profesional dan jika hal-hal semacam itu mengganggu Anda, maka Anda keliru dan kita tidak bisa bekerja bersama,” kata Klopp
Akhir cerita, Hamburg terlihat menyesal dengan keputusan itu. Mereka kemudian malah menunjuk Martin Jol, sementara Klopp melanjutkan kariernya bersama Borussia Dortmund, di mana ia berkembang pesat menjadi salah satu pelatih top di dunia.
Torehan dua gelar Bundesliga, satu DFB-Pokal, hingga final Liga Champions jadi prestasinya di Dortmund. Liverpool, yang jadi destinasi berikutnya, kemudian kecipratan aksi brilian Klopp. Kesuksesan bersejarah berhasil diraih The Reds seperti sukses menjuarai Liga Primer Inggris dan Liga Champions.
Di satu sisi, Hamburg justru menuju arah kemunduran sejak insiden itu. Mereka terdegradasi ke divisi dua Bundesliga untuk pertama kalinya dalam sejarah pada 2018, terjadi mismanajemen. Di musim 2019/20, mereka dipastikan gagal promosi setelah dihajar 5-1 di kandang sendiri oleh SV Sandhausen.
“Jika kami mendatangkan Jurgen Klopp pada waktu itu, kami mungkin tidak akan mencapai final Liga Champion. Namun, klub ini mungkin akan terasa berbeda ketimbang hari ini,” sesal Hoffmann.