June 15, 2021

Diharapkan Selevel Cristiano Ronaldo, Bintang Jerman Kai Havertz Sempat Tertekan Di Chelsea

Kai Havertz mengaku sempat tertekan di awal karier Chelsea-nya, mengklaim bahwa fans berharap ia bisa menjadi “Cristiano Ronaldo yang baru.”

Chelsea menjebol rekor transfernya sebesar £70 Juta demi mendapatkan bakat Havertz musim panas yang lalu, setelah melihatnya menjelma menjadi pemain muda top di Bayer Leverkusen.

Pria 22 tahun itu kesulitan menyamai reputasinya di bulan-bulan pertama di Stamford Bridge dan kini terbuka soal rasa frustrasinya saat bersama tim nasional Jerman di Piala Eropa.

“Orang-orang berharap saya menjadi Cristiano Ronaldo yang baru,” ujar Havertz kepada Suddeutsche Zeitung. “Tapi tidak bisa secepat itu, semuanya hal baru dan saya benar-benar tak memainkan sepakbola terbaik saya di awal.”

“Saya merasakan tekanan yang jauh berbeda ketimbang saat di Leverkusen.”

Havertz perlahan-lahan mulai menunjukkan kebolehannya bagi Chelsea setelah kedatangan manajer baru Thomas Tuchel Januari kemarin, bahkan dipercaya menjadi starter di final Liga Champions bertajuk All-English melawan Manchester City bulan lalu.

Sang penyerang menebus kepercayaan Tuchel dengan mencetak gol pemenang di Estadio Do Dragao, yang ia nilai sebagai momen krusial bagi perkembangannya sebagai pemain.

“Saya senang bisa mengakhiri musim dengan mencetak gol di final Liga Champions,” imbuh Havertz.

“Gol itu penting bagi sejarah klub, tapi juga penting bagi saya sehingga saya telah bekerja dengan baik secara profesional.”

Havertz meraih tempat di bawah naungan Joachim Low di skuad Jerman untuk Euro setelah membuktikan dirinya di London menjelang akhir musim 2020/2021. Ia kini bersiap bersama koleganya untuk menyambut partai pembuka mereka di Grup F melawan juara dunia Prancis.

Mantan penggawa Leverkusen itu berkata menjuarai Liga Champions telah memberikan kepercayaan diri ekstra untuk menghadapi Euro, namun mengaku akan tidak berarti jika Jerman gagal tampil bagus di panggung internasional.

“Sekarang kami di tim nasional, kami punya proses yang berbeda dan tujuan yang berbeda pula,” ujar Havertz. “Memang trofi itu memberikan dorongan dan rasa percaya diri bagi saya, tapi tidak ada artinya merasa menjadi juara Liga Champions jika setelahnya tampil buruk di Piala Eropa.”