Indonesia Football Artist – Menembus Klub Top Eropa Dengan Desain Grafis
Tahukah Anda jika ada banyak klub top Eropa yang memakai jasa desainer grafis Indonesia secara profesional?
Ya, dalam beberapa tahun terakhir, klub-klub seperti Barcelona, Liverpool, Juventus, dan AS Roma telah menggunakan karya-karya dari seniman Indonesia untuk kian mendekatkan diri dengan fans. Adapun sejumlah klub lokal Indonesia seperti Persija Jakarta, Bhayangkara FC, Barito Putera juga tidak ketinggalan melakukan hal serupa.
Era internet dan media sosial memungkinkan seniman Indonesia untuk berkarya seluas-seluasnya. Ilustrasi dari Yulius Wisnu, misalnya, telah beberapa kali mejeng di laman media sosial Liverpool.
?? MATCHDAY ??
Back at Anfield. Ready to go again! ?? #ThisMeansMore #LIVARS pic.twitter.com/DEYCXuJMcs
— Liverpool FC (@LFC) August 24, 2019
Wisnu adalah salah satu anggota dari Indonesia Football Artist (IFA), yang lahir sebagai wadah bagi mereka yang menggeluti seni dan menggemari sepakbola untuk berkembang bersama.
“Kami dipertemukan dalam dua hal, sepakbola dan seni. Kami yakin komunitas ini akan memberi manfaat sehingga masing-masing dari kami bisa meraih impian,” kata Galih Satrio, ketua IFA, dalam acara bincang-bincang Design, Football, & Industry di Yogyakarta, Sabtu (21/9).
Acara tersebut sekaligus membuka gelaran pameran perdana IFA, yang menampilkan berbagai ilustrasi tentang sepakbola nasional. Pameran ini berlangsung di Awor Gallery & Coffee di Yogyakarta, hingga 5 Oktober mendatang.
Masaik, yang hadir sebagai pembicara di acara tersebut, menceritakan pengalaman magang di Juventus sebagai desainer grafis. Selama dua bulan di Turin, Masaik mengakui bahwa desain sangat dibutuhkan dalam industri sepakbola dan ini bisa menjadi peluang bagi para desainer grafis.
“Terpenting, harus terlihat sebagai profesional. Tidak cuma bisa desain grafis atau memiliki portofolio saja, punya akun LinkedIn juga sangat penting. Dengan LinkedIn, saya bisa menambah koneksi dengan orang-orang yang bekerja di Juventus. LinkedIn sudah jadi standar buat mereka,” kata Masaik soal tipsnya agar mendapat klien.
Dari skena sepakbola lokal, Dimas Maulana dari Bawahskor juga bercerita soal pengalamannya mengumpulkan arsip dan cerita tentang PSIM Yogyakarta. Dari situ, ia mengaplikasikannya ke dalam berbagai media dan dijadikan merchandise yang dijual kepada publik.
Desain grafis dalam sepakbola tidak melulu soal menggambar ilustrasi pemain. IFA mendorong anggotanya untuk melebarkan sayapnya ke bentuk media lain, misalnya mendesain kover buku.
Jika berhasil menciptakan karya yang sukses menembus klub top Eropa, menurut Galih, itu adalah bonus. “Di-hire klub favorit saja sudah menjadi kebanggaan tersendiri,” ujarnya.
Ke depannya, IFA bisa menjadi tempat belajar bersama bagi para desainer grafis dari seluruh Indonesia untuk menumpahkan kecintaan dan kreativitas mereka terhadap sepakbola.