Legenda Liverpool John Barnes: Jurgen Klopp Sudah Dipecat Jika Berkulit Hitam
Legenda Liverpool, John Barnes, melontarkan klaim menarik. Ia mengatakan bahwa manajer The Reds, Jurgen Klopp, sudah dipecat sejak awal penunjukannya hanya jika ia berkulit hitam.
Klopp hanya membawa Liverpool finis di urutan kedelapan klasemen pada musim 2015/16 alias tahun pertamanya membesut The Reds.
Pada musim yang sama, Klopp pun gagal mempersembahkan trofi setelah Liverpool kalah pada final Piala Liga Inggris dan Liga Europa.
Tapi tiga sampai empat tahun berselang, Liverpool di bawah arahan pelatih asal Jerman itu sukses menjuarai Liga Champions dan lebih spesial lagi, mengakhiri penantian 30 tahun klub untuk meraih gelar Liga Primer Inggris.
Barnes bersikeras bahwa diskriminasi masih terjadi di klub-klub papan atas EPL. Ia bersuara seiring pengunduran diri Greg Clarke dari posisinya sebagai chairman Federasi Sepak Bola Inggris (FA) setelah menyebut pemain kulit hitam, Asia, dan Etnis Minoritas dengan sebutan kaum ‘berwarna’.
“Anda dapat menempatkan struktur pada tempatnya, tetapi sampai Anda mengubah persepsi Anda, tidak ada yang akan berubah,” ucap Barnes kepada PlayOJO, Kamis (12/11).
“Saya menggunakan [Jurgen] Klopp sebagai contoh. Seberapa sukseskah dia dalam dua tahun pertama dengan gap 21 poin? Tapi kami yakin dia orang yang tepat.”
“Dalam situasi yang berbeda, dia akan kehilangan pekerjaannya. Jika dia berkulit hitam, dia akan dipecat dalam dua tahun pertama itu.”
“Jika dia orang Inggris, dia akan kehilangan pekerjaannya.”
“Di sinilah gagasan antidiskriminasi agak aneh, karena ada sekelompok orang yang didiskriminasi di sepakbola Inggris dan level tertinggi EPL.”
“Sekarang, enam tim teratas tidak dibesut manajer Inggris berkulit putih. Ya, Anda bisa mengatakan Frank Lampard, seperti yang dikatakan orang-orang, tetapi itu hanya karena dia memiliki ikatan khusus dengan Chelsea dan itulah satu-satunya alasan dia melatih Chelsea.”
“Tapi dalam situasi yang berbeda, dia tidak akan mendapatkan pekerjaan itu,” pungkasnya.
Sebelumnya, bintang Manchester City, Raheem Sterling, sempat menegaskan pentingnya keterlibatan lebih dalam bagi etnis minoritas di dunia sepakbola khususnya.
Sterling merasa posisi utama di jajaran manajerial klub-klub EPL terlalu didominasi oleh orang-orang kulit putih, termasuk manajer dan jabatan penting di manajemen.
Momentum untuk kembali menyuarakan anti-rasialisme kembali mengemuka pasca-pembunuhan berbau rasialisme terhadap George Floyd yang menimbulkan reaksi keras masyarakat di hampir semua negara bagian di Amerika Serikat, yang juga merembet ke negara-negara lain, Juni lalu.