February 26, 2020

Liga 1 2020: Bhayangkara FC, Persipura Jayapura, Barito Putera

Bhayangkara FC mengumpulkan banyak pemain bintang untuk menyongsong Liga 1 2020. Sedangkan Barito Putera justru membangun rencana jangka panjang, dengan mempromosikan sederet pemain muda.

Persipura Jayapura selalu patut ditunggu setiap musimnya. Terlebih, musim ini sejak awal mereka dinakhodai oleh Jacksen Tiago, pelatih yang sudah mengenal betul karakter tim, dan pernah memberi gelar juara.

Bhayangkara FC

Bhayangkara mendaratkan sederet nama besar, dari mulai Andik Vermansah, Renan Silva, hingga salah satu pemain muda Indonesia yang paling menjanjikan, Saddil Ramdani.

Hal tersebut mempertegas komitmen tim bentukan polisi ini untuk bisa menuai sukses di bawah arahan pelatih Paul Munster. Mereka menjalani pramusim yang cukup, dari mulai turnamen di Kamboja, hingga Piala Gubernur Jatim.

Pelatih; Paul Munster

Musim ini akan menjadi tahun kedua untuk Munster berkarier di kompetisi Indonesia. Bedanya, tahun lalu ia hadir pada pertengahan musim, namun sukses untuk membuat perubahan besar pada gaya main Bhayangkara.

Pelatih asal Irlandia Utara ini punya modal yang cukup untuk membuat musim ini lebih baik dari 2019 lalu. Munster punya kedalam skuad yang lebih baik, dan kualitas di setiap lini, yang jelas bisa jadi dukungan berharga.

Pemain andalan;

Lee Won-jae; Stoper asal Korea Selatan ini menjadi pendatang baru di kompetisi Indonesia, namun Munster menyebut jiwa pemimpin ada dalam diri eks Daegu FC tersebut. Sosok komandan di lini belakang adalah hal yang disebut Munster tak ada di musim sebelumnya.

Renan Silva; Membantu Persija Jakarta juara Liga 1 2018, dan menjadi pemain terbaik Liga 1 musim lalu ketika membela Borneo FC, adalah penegasan bagaimana kualitas Renan. Playmaker asal Brasil ini diharapkan mampu memberikan gelar Liga 1 kedua untuk The Guardian.

Saddil Ramdani; Secara usia Saddil masih sangat muda, namun ia berulang kali mempertegas kelasnya, ketika membela timnas Indonesia, atau pun bermain di level klub. Saddil menikmati musim pertamanya kembali ke Indonesia, setelah tahun lalu bermain di Malaysia, bersama Pahang FA.

Persipura Jayapura

Jangan pernah remehkan Persipura. Tim asal Papua ini kerap memulai kompetisi dengan inkonsistensi, namun selalu dapat bangkit dan tiba-tiba masuk dalam pacuan untuk perebutan gelar. Hal itu juga terjadi pada musim lalu, hingga akhirnya mereka finis di posisi tiga klasemen akhir.

Musim ini Mutiara Hitam akan berkandang di Stadion Klabat, karena Stadion Mandala Jayapura dalam tahap renovasi. Mereka tak akan berlama-lama di sana, karena targetnya Mandala akan selesai pertengahan musim ini. Secara skuad, Persipura tetap didominasi anak lokal yang penuh teknik.

Pelatih; Jacksen Tiago

Jacksen dan Persipura begitu cocok, hingga tiga gelar kompetisi mereka raih bersama. Sempat melatih beberapa klub, akhirnya Jacksen kembali bersama tim merah-hitam, dan nampaknya tak ada sosok yang lebih cocok daripada Jacksen, untuk menukangi Persipura saat ini.

Pemain andalan;

Ricardo Salampessy; Stoper senior yang selalu tampil konsisten setiap musimnya. Sulit untuk menggeser peran Ricardo di lini belakang Persipura. Kemitraan Ricardo dan Arthur Cunha di jantung pertahanan Persipura, tentu akan menarik dinantikan.

Ian Louis Kabes; Sosok yang sebenarnya tak kalah mengagumkan dari Boaz Solossa di Persipura. Kabes sudah berkarier sejak 2005, dan layaknya pangeran untuk klub tersebut. Sudah berusia 33 tahun, Kabes tetap istimewa dan konsisten dalam memperlihatkan kelasnya sebagai gelandang.

Todd Rivaldo Ferre; Papua tak pernah habis kehilangan anak muda yang bermain sepakbola. Todd menjadi pemain muda terbaik Liga 1 musim lalu. Perjalanan masih sangat panjang untuk Todd berkembang, usianya masih 20 tahun, dan perlahan ia bisa menghapus imej sebagai supersub.

Barito Putera

Barito masih memegang prinsip pembentukan tim untuk jangka panjang. Hal tersebut pernah mereka lakukan ketika menjadikan Jacksen Tiago sebagai pelatih mereka. Sayang, kerja sama antara Barito dan Jacksen tak bertahan sesuai rencana.

Namun, fondasi jangka panjang dari Laskar Antasari berlanjut dengan tampuk kepelatihan di bawah kendali Djadjang Nurdjaman. Barito mempromosikan beberapa pemain tim junior, seperti Abel Tacchinardi, David Maulana, Muhamad Firli, hingga kembar Bagas Kaffa dan Bagus Kahfi.

Pelatih; Djadjang Nurdjaman

Djadjang mengalami naik-turun karier setelah sukses mempersembahkan gelar Indonesia Super League (ISL) 2014 untuk Persib Bandung. Banyak yang menilai Djadjang bukan pelatih istimewa, namun harus diakui bahwa sosok asal Majalengka ini salah satu arsitek papan atas Indonesia.

Cukup unik bagaimana Djadjang dengan Barito musim ini. Pria yang karib disapa Djanur itu lebih memilih mayoritas pemain muda, dan tak mengedepankan nama bintang senior, seperti ketika ia menukangi Persib. Maka, layak dinantikan wajah baru dari Djanur dan Barito musim ini.

Pemain andalan;

Cassio de Jesus; Stoper asing asal Brasil ini jadi juru selamat Barito dari jurang degradasi pada musim lalu. Direkrut pada pertengahan musim, impak mantan pemain Semen Padang ini cukup bagus untuk pertahanan Barito yang kadang sangat rentan.

Bayu Pradana; Masih menjadi salah satu gelandang tengah yang diperhitungkan di Indonesia, ia pun masih sering mendapat panggilan membela timnas Indonesia. Di usia 29 tahun ini, Bayu makin mantap menyandang status sebagai jenderal lapangan tengah, terlebih ia harus membimbing rekan-rekannya yang berusia lebih muda.

Aleksandar Rakic; Tiga musim di Indonesia, tiga musim berganti klub. Aleksandar Rakic menjadi topskorer pada musim perdana di Indonesia, ketika membela PS TIRA. Bersama Madura United musim lalu, bomber asal Serbia ini 12 gol dari 29 penampilan.