June 14, 2020

Liverpool Ingin Pecahkan Rekor Manchester City, Dengan 109 Poin Masih Mungkin Diwujudkan

Liverpool akan berusaha untuk memecahkan rekor poin Liga Primer Inggris milik Manchester City, kata Steve McManaman, selagi mereka masih mungkin untuk finis di angka 109.

Performa Liverpool yang luar biasa membuat klub penghuni Anfield itu hanya kalah satu kali dalam kampanye musim 2019/20.

Jumlah kekalahan itu adalah sama seperti yang mereka alami musim lalu, tetapi pada kesempatan itu mereka harus puas finis di urutan kedua setelah ditikung City.

Semenjak itu, tim arahan Jurgen Klopp telah berusaha untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada dan tengah menjalani musim pembuatan sejarah sebagimana mereka merangkum 82 poin dari 29 pertandingan, juga menikmati keunggulan 25 poin di puncak.

Hanya butuh dua kemenangan lagi untuk menyegel gelar juara liga pertama dalam 30 tahun terakhir, menjadi yang pertama di era Liga Primer Inggris, dengan mereka akan kembali beraksi pada 21 Juni melawan rival sekota Everton.

Pertandingan itu akan menjadi yang pertama dari sembilan partai tersisa bagi tim Klopp, selagi McManaman berharap mantan klubnya itu bisa sapu bersih hingga akhir musim.

Kepada BBC Radio 5 Live, McManaman mengatakan: “Rekor liga mereka sangat fenomenal.

“Tim-tim hebat terus-menerus menang dan menjadi juara serial, tetapi dalam satu musim, Liverpool akan dikenang sebagai yang terbaik.

“[Duel melawan Everton] akan menjadi pertandingan yang bagus. Itu adalah pertandingan derbi, jadi mereka harus langsung menang, mereka harus mulai berlari.

“Dan saya pikir mereka sekarang akan mengatakan ‘kami memiliki sembilan pertandingan tersisa, kami ingin mengalahkan rekor Manchester City’.”

City pernah meraih 100 poin pada 2017/18, menjadi tim pertama dalam sejarah Liga Primer yang mencetak tiga angka di akhir musim.

Liverpool memiliki potensi untuk melewati capaian itu, tetapi McManaman mengakui bahwa meraih gelar juara tanpa kehadiran suporter adalah hal yang disayangkan.

Dia menambahkan: “Ini akan fantastis ketika itu terjadi tetapi para penggemar tidak akan berada di sana.

“Ke depannya, para suporter akan kembali diizinkan masuk stadion, mereka dapat merayakannya dengan meriah saat itu dan mengadakan parade di sekitar kota.

“Tapi Anda melihat reaksi para penggemar ketika Liverpool membawa pulang trofi Liga Champions. Jika mereka memenangkan liga setelah 30 tahun, mereka akan merayakannya, tetapi itu tidak akan sama seperti saat berada di kandang dan merayakannya dengan tim.”