Lorenzo Cabanas: Antara Persija Jakarta & Persib Bandung
Perpidanahan pemain dari Persija Jakarta ke Persib Bandung, atau sebaliknya, sudah banyak terjadi kendati keduanya merupakan klub rival. Hanya saja, tak banyak yang bisa tampil baik di kedua klub tersebut.
Untuk pemain asing, Lorenzo Cabanas bisa dibilang sebagai sosok yang sukses ketika berkostum Persija atau Persib. Bersama Persija, ia cemerlang pada 2005, hingga tampil di final Piala Indonesia. Di Persib, Cabanas membantu Maung Bandung juara paruh musim 2007.
Kepada Goal Indonesia, Cabanas menceritakan tentang petualangannya di Liga Indonesia. Ia juga turut menyampaikan tentang hal yang membuat ia urung kembali lagi ke Indonesia selepas musim 2008/09.
Apa kegiatan Anda sekarang?
Saya memiliki penyewaan real estate, saya melakukan bisnis lain, dan saya juga seorang teknisi di salah satu klub Paraguay. Dasar saya memiliki gelar sarjana teknik olahraga profesional, dan saya juga memiliki gelar sarjana administrasi bisnis.
Apa momen tak terlupakan ketika Anda berkarier di Liga Indonesia?
Momen yang menyenangkan, dan diingat adalah ketika melawan Persija yang notabene mantan klub saya. Saat itu kami menang 3-0. Saya juga tak lupa momen ketika kami pergi dengan Persib untuk bermain melawan Persija. Kami terlibat insiden dengan Jakmania ketika kami tiba di stadion.
Mereka menyerang kami, dan memecahkan seluruh bus Persib. Mereka memecahkan segalanya. Kami juga mendapati beberapa pemain yang terluka, tapi kami masih semangat, dan mau memainkan pertandingan. Memori itu akan tetap saya kenang karena sesuatu seperti itu belum pernah terjadi pada saya.
Pernah bermain di Persib dan Persija. Tidak banyak pemain asing yang memiliki pengalaman seperti itu. Apa pendapat Anda?
Ketika saya tiba di Indonesia, saya main untuk Persija, tapi saya tidak bisa bermain melawan Persib Bandung waktu itu karena ada masalah dengan para suporter, dan pertandingan. Ketika saya berada di Persib, saya bermain melawan Persija, dan itu sangat menyenangkan.
Ketika Anda berada di Persib Bandung, Anda membawa Persib ke puncak klasemen paruh musim tetapi Anda gagal menjadi juara di akhir musim. Di Persija, Anda bermain di dua final tetapi keduanya gagal. Anda mungkin kurang beruntung. Apa pendapat Anda?
Saya pikir bukan nasib buruk, justru saya pikir, saya beruntung berada pada waktu itu dan saya benar-benar menikmatinya. Dalam sepakbola hanya ada tiga hasil, Anda bisa menang, kalah, atau seri.
Ketika Anda meninggalkan Indonesia, masih banyak tim yang menginginkan Anda. Mengapa Anda memutuskan untuk tidak kembali ke Indonesia?
Ketika saya kembali ke Paraguay, anak perempuan saya akan segera lahir dan saya tidak ingin meninggalkan mereka sendirian. Saya ingin menikmati kelahiran putri saya. Saya memutuskan untuk tetap di Paraguay. Jika saja saat itu Persib menawarkan kontrak pada saya lagi, mungkin saya akan kembali. Saat itu, meski ada beberapa tim yang menginginkan saya, tetapi saya jawab tidak bisa menerima.
Setelah Anda meninggalkan Indonesia untuk kembali ke Paraguay, apakah Anda pernah mengunjungi Indonesia lagi?
Saya tidak pernah kembali lagi, tetapi ingin kembali. Sudah direncanakan (ke Indonesia) tapi belum terjadi. Di masa depan, saya ingin bekerja untuk beberapa klub di Indonesia.
Ketika Anda datang ke Indonesia, suatu hari nanti. Kota atau tempat apa yang ingin Anda kunjungi untuk pertama kalinya?
Pertama saya ingin pergi ke Bandung karena di sana saya meninggalkan banyak teman dan kenangan.
Siapa rekan satu tim terbaik Anda selama berkarier di Indonesia?
Sebenarnya saya punya beberapa kolega terbaik. Di musim pertama adalah dengan Redouane Barkaoui dan musim kedua dengan Hilton Moreira. Saya juga punya tandem terbaik, yakni duo saya di lini tengah, Eka Randani. Saya dan Eka saling memahami dengan sangat baik.