Quinton Fortune Ambisi Jadi Manajer Manchester United
Mantan pemain Manchester United Quinton Fortune telah mengutarakan keinginannya untuk menjadi manajer di Old Trafford pada suatu hari nanti.
Seorang pemain serbabisa saat mashih aktif bermain, mantan bintang internasional Afrika Selatan itu merapat ke tim Setan Merah pada 1999 dan menghabiskan tujuh tahun berikutnya di klub, bermain 76 kali dan mencetak lima gol di Liga Primer Inggris.
Setelah gantung sepatu, Fortune berhasil mendapatkan lisensi kepelatihan tetapi tidak memiliki pengalaman sebagai manajer tim utama. Ia kini hanya dipekerjakan sebagai pelatih di tim United U-23.
Meski begitu, pria berusia 43 tahun itu menginginkan pekerjaan papan atas di Old Trafford pada suatu hari ketika ditanya soal ambisi utamanya.
“Saya memikirkan pertanyaan itu kemarin untuk beberapa alasan dan yang saya pikirkan pertama kali adalah menjadi manajer Manchester United,” kata Fortune kepada podcast Manchester United.
“Itu adalah impian saya. Tentu saja, saya memulai karier itu sekarang bersama tim U-23 dan saya tengah belajar banyak dan saya ingin belajar sebanyak mungkin karena di dunia manajerial, semuanya berubah cepat dari segi sepakbola sekarang ini.
“Begini, saya [mungkin] harus keluar dan belajar di tempat lain dan menjadi manajer. Tetapi mimpi itu, impian utama, adalah kembali dan menjadi manajer Manchester United. Dari apa yang pernah saya lewati, saya akan berusaha untuk mencapai level tertinggi.”
Sementara masalah rasisme menjadi perbincangan publik dalam beberapa pekan terakhir, Fortune ingin diberi peran sebagai manajer tim utama karena kualitasnya dan bukan karena ras, sebagaimana hanya empat dari 92 klub Inggris yang dilatih oleh pria berkulit hitam.
“Saya ingin diberi pekerjaan karena kemampuan saya,” kata Fortune. “Saya ingin selalu dinilai karena karakter saya dan apa yang dapat saya berikan untuk tim, bukan karena warna kulit saya.
“Ketika Anda melihat sepakbola, Anda melihat banyak pemain kulit hitam tetapi mengapa tidak ada banyak manajer kulit hitam? Saya tidak tahu apa alasannya. Saya pikir jika saya melangkah terlalu jauh ke dalamnya, itu akan menghalangi cara berpikir saya.
“Saya ingin berpikir saya akan bekerja sekeras yang saya bisa, dapatkan semua kualifikasi, persiapkan diri saya dan jangan biarkan penghalang itu menghentikan saya. Dan jika ada sistem yang diterapkan, bagus, tetapi terlepas dari itu saya akan pergi dan tetap bekerja.”