Redouane Barkaoui: Menangis Untuk Persib Bandung, & Kekecewaan Pada Arcan Iurie
Banyak cara dilakukan pesepakbola untuk selalu dikenang, salah satunya dengan selebrasi unik. Di Persib Bandung, beberapa pemain dan mantan pemainnya memiliki gerakan khas saat merayakan gol yang cukup dikenang Bobotoh.
Beberapa pemain yang sudah terkenal memiliki ciri khas saat merayakan gol, contohnya Zulham Zamrun yang bergaya bak Cristiano Ronaldo, Nova Arianto yang menirukan Suster Ngesot, Jonathan Bauman dengan selebrasi memancing, dan Lorenzo Cabanas yang merayakan dengan selebrasi memanah seperti Robin Hood.
Namun demikian, dari semua pemain yang pernah membela Persib, hanya ada satu yang memiliki ciri khas selebrasi dengan goyang jaipong yakni Redouane Barkaoui, yang notabene merupakan pemain asing.
Tak cuma dikenal dengan selebrasi khas tari jaipong, Barkaoui juga dikenal dengan kualitas permainannya yang mumpuni. Mantan pengguna nomor sepuluh Persib asal Maroko ini cukup tajam sebagai penyerang lubang dengan membukukan 14 gol selama dua musim membela Persib, yakni pada musim 2006 dan 2007-2008.
Barkaoui juga meninggalkan kesan baik selama membela Persib, dengan membawa Maung Bandung menjadi juara paruh musim 2007-2008. Sayangnya, Persib tampil inkonsisten pada putaran kedua sehingga mimpi untuk meraih trofi juara ke Kota Bandung kembali sirna.
Goal Indonesia berhasil mewawancarai Redouane Barkaoui yang sekarang menetap di Casablanca. Dalam kesempatan ini, Barkaoui bercerita tentang banyak hal, seperti kesibukan saat ini, dan kekecewaannya pada pelatih Arcan Iurie. Berikut petikan wawancara Goal bersama Barkaoui lewat surat elektronik:
Setelah meninggalkan Liga Indonesia, apa yang Anda lakukan?
Saya kembali ke Maroko meski sebetulnya masih dapat tawaran bermain di Liga Indonesia pada 2011. Namun saat itu saya putuskan untuk bergabung dengan Wydad de Fès karena ingin lebih dekat dengan keluarga. Setelah itu, saya menyelesaikan studi saya dan sekarang, saya boleh dikatakan sebagai seorang pelatih.
Masih mengikuti sepakbola Indonesia, khususnya Persib?
Saya masih selalu update informasi tentang Persib khususnya. Saya juga masih sering menonton pertandingan dan cuplikan pertandingan. Saya juga tahu kalau Persib sempat melakukan perekrutan besar beberapa musim lalu dengan mendatangkan Michael Essien dan Carlton Cole. Musim 2019, Persib memulai liga dengan penampilan buruk tapi masuk putaran kedua bisa tampil perkasa.
Saya tidak pernah melupakan Persib, saya selalu Persib Bandung!
Lantas, bagaimana Anda melihat Persib sekarang?
Di musim ini, Persib memulai liga dengan sempurna tapi sayangnya harus terhenti karena ada pandemi ini sehingga liga harus berhenti.
Redouane Barkaoui terkenal dengan selebrasi tari Jaipong, dari mana inspirasi Anda memiliki ide selebrasi seperti itu?
Saat itu ada teman saya mengajari tari Jaipong, ditambah lagi saya suka musik tradisional. Setelah saya mampu melakukan tari Jaipong, saya melakukan selebrasi tari Jaipong sebagai bentuk terima kasih saya untuk dia.
Selain menari Jaipong saat selebrasi, apa momen tak terlupakan lainnya saat bermain di Persib?
Saya sempat menangis saat saya meninggalkan Persib untuk pergi ke Pahang di Malaysia pada 2008 akhir. Saya sedih dan tak bisa lupakan Bobotoh. Sempat ada banyak Bobotoh datang ke apartemen saya demi memberikan ucapan perpisahan, sangat berkesan dan sedih.
Jujur, saat itu saya sempat kecewa kepada pengurus Persib dan pelatih (Arca Iurie) karena memasuki putaran kedua, saya terkejut karena pelatih (Arcan) mencoret Nyeck Nyobe dan diganti oleh pemain asing lain. Saya kecewa kepada pelatih dan pengurus klub karena dengan pemain yang ada saat awal putaran pertama, saya pikir kami bisa memenangkan liga.
Bagaimana awalnya Anda bisa bergabung dengan Persib?
Awal saya ke Persib, saya datang dari Malaysia untuk trial. Saat saya lolos, saya tak punya alasan untuk menolak karena saya merasakan kalau Persib adalah tim besar.
Siapa rekan terbaik kamu saat di Persib?
Saya sangat suka dengan karakter Eka Ramdani, Zaenal Arif, Lorenzo Cabanas, Christian Bekamenga, Salim Alaydrus, dan banyak lagi pemain lainnya. Namun untuk urusan rekan dalam bermain, Lorenzo Cabanas lah yang paling spesial bagi saya.
Dari pihak tim pesaing kami, saya suka permainan dari Supardi dan Muhammad Ridwan yang di mana ketika saya sudah pergi dari Persib, beberapa musim kemudian mereka bergabung ke Persib.
Masih tetap berkomunikasi dengan beberapa rekan Anda di Persib?
Dengan Cabanas dan Bekamenga, kami masih sering berbicara lewat media sosial. Bekamenga kini main di klub Turki dalam beberapa tahun terakhir dan gajinya cukup besar. Selain Cabanas dan Bekamenga, saya juga pernah bertemu Kosin (Sinthaweechai Hathairattanakool) pada 2014 di Thailand. Untuk pemain lokal, saya masih dekat dan memiliki kontak dengan Erik Setiawan.
Setelah Redouane Barkaoui, apakah ada sosok striker asing hebat di Persib menurut Anda? Lalu, apa Anda punya pesan untuk para striker asing yang baru bergabung dengan Persib?
Jelas banyak striker asing hebat setelah saya, tapi saya lupa namanya. Pesan saya, striker harus berjuang dengan sepenuh hati, bermain dengan hati untuk mereka yang mencintai Anda, mencintai Persib khususnya Bobotoh. Dengan begitu kemampuan terbaik akan keluar. Itulah yang saya lakukan saat di Persib.
Apa ada rencana akan datang ke Bandung sebagai Bobotoh untuk menonton Persib?
Tentu saja, saya seorang Bobotoh sekarang. Saya sangat ingin menonton Persib ke stadion. Saya suka atmosfer Bobotoh di stadion. Saya sangat senang jika bisa memberikan semangat kepada para pemain Persib di lapangan bersama Bobotoh lainnya.
Apa yang ingin Anda katakan ketika mendengar Persija?
Rivalitas! Ini luar biasa seperti rivalitas Raja versus Wydad di Maroko dalam derbi Kota Casablanca. Hal seperti itu, selalu membuat banyak pemain baik di Persib dan mungkin juga Persija selalu tampil kesulitan akibat tekanan suporter.
Suporter Persib dan Persija punya persaingan sengit. Saya tidak pernah lupa momen di mana wajah Eka berdarah karena suporter Persija melempari bus kami dengan batu sampai kacanya pecah. Momen dalam pengawalan tentara dan polisi juga, saya tak pernah lupa saat bertemu Persija.
Saya hanya ingin sampaikan dalam kesempatan ini, agar Bobotoh dan The Jak bisa menghormati sepakbola. Tolong dukung tanpa kekerasan karena sepakbola ada untuk menghibur dan sepakbola itu seni.
Ini sudah 2020, tolong jangan ada lagi kekerasan dan kalian juga harus pikir, dengan kekerasan apalagi jika kalian sampai jadi korban, artinya kalian menyakiti keluarga sendiri dan keluarga orang lain jika kalian menyakiti seseorang.
Sampaikanlah pesan saya ini karena saya cinta sepakbola Indonesia. Nikmatilah waktu kalian dan kalian harus bisa menjadi suporter seperti di negara yang sepakbolanya sudah maju. Tolong sekali lagi, hentikan kekerasan antarsuporter.