Ryan Giggs Ungkap Empat Pemain Yang Kebal ‘Hairdryer Treatment’ Dari Sir Alex Ferguson
Ryan Giggs menyebut empat pemain Manchester United yang kebal dari “hairdryer treatment” Sir Alex Ferguson, dengan ia tak lupa menggambarkan manajer legendaris Skotlandia itu sebagai “master psikologi”.
Ferguson diakui sebagai salah satu manajer terbesar dalam sejarah sepakbola, setelah membawa United meraih 13 gelar Liga Primer dan dua trofi Liga Champions selama 26,5 tahun masa kepemimpinannya di Old Trafford.
Namun ia tidak selalu akur dengan para pemainnya, mengingat ada banyak laporan perselisihan di ruang ganti yang melibatkan pemain tertentu selama dan setelah pertandingan, dan itu sering terjadi.
Salah satu insiden paling terkenal adalah saat Ferguson mengaku menendang sepatu ke arah David Beckham hingga membuat pelipisnya dijahit – sementara perselisihan di luar lapangan dengan Jaap Stam dan Ruud van Nistelrooy akhirnya membuat kedua pemain itu meninggalkan klub.
Giggs mengatakan hanya sedikit yang berhasil lolos dari kemarahan Ferguson, termasuk pemenang Ballon d’Or lima kali Cristiano Ronaldo dan mantan kapten klub Roy Keane.
“Ada tiga atau empat pemain yang tidak pernah ia marahi,” kata Giggs kepada beIN Sports.
“Eric Cantona adalah salah satu – Bryan Robson, Roy Keane dan Cristiano Ronaldo. Mereka semua, dengan cara mereka sendiri, adalah pemenang.
“Mereka melakukan pekerjaannya di lapangan, jadi dia tidak pernah merasa harus melakukan [haridryer treatment] itu.
“Mengenai Eric, ada beberapa laga di mana Eric tidak melakukan apa-apa. Dia tidak mencetak gol, dia tidak berlarian seperti Carlos Tevez atau Wayne Rooney, dia tidak memiliki dampak apa pun. Tetapi dia [Ferguson] tahu cepat atau lambat dia akan cemerlang.
“Kita kemudian duduk di ruang ganti sambil berpikir: ‘Dia harus memarahinya, dia harus menggertaknya karena dia [Cantona] tidak melakukan apa-apa hari ini’.
“Tapi minggu depannya dia mencetak gol kemenangan atau dia akan menghasilkan momen ajaib, jadi dia menangani nama-nama besar dengan sangat baik selama mereka bekerja di lapangan, dia menangani mereka dengan cara yang berbeda.
“Dia adalah master psikologi, dia adalah master dalam mendapatkan yang terbaik dari individu-individu tertentu entah itu merangkul mereka, menembaknya dengan roket di saat jeda atau di akhir pertandingan atau tidak memainkannya selagi dia mengetahui bahwa si pemain akan bereaksi secara positif.”
Giggs kemudian mengakui bahwa ia sering berdebat denan Ferguson di beberapa kesempatan, dan tak jarang dikenai denda karena mengkritik manajernya itu.
“Saya sering berselisih dengannya,” tambah Giggs, yang sekarang melatih Wales. “Maksud saya selama berkarier, saya pernah enam atau tujuh kali dikenai denda beberapa minggu gaji karena membalas perkataannya, hanya karena memiliki sebuah argumen.
“Pada saat itu memang terasa tidak terlalu baik, Anda berada di ruang ganti, Anda baru saja mendapatkan kekalahan atau Anda tampil buruk. Dan saya tidak bisa menahan diri untuk membalas perkataannya.
“Dia sebenarnya, di akhir kariernya, bilang bahwa dia menyukai cara saya itu, itu berarti saya peduli. Namun dia tetap saja memotong gaji saya selama dua minggu karena dia ingin menunjukkan bahwa dia yang berkuasa tetapi dia sebenarnya cukup menyukainya, asalkan itu tidak melewati batas tentunya.”