August 08, 2019

Sepakbola Wanita Dianggap Menantang & Butuh Perhatian Lebih

Sepakbola wanita kini tak bisa dipandang sebelah mata, sudah banyak masyarakat yang mulai menikmati olahraga terpopuler di dunia ini dengan wanita sebagai pelaku utamanya.

Dalam rangka merayakan ulang tahun yang ke-52, ASEAN (atau perkumpulan negara Asia Tenggara) menyoroti dan mendiskusikan bagaimana sepakbola wanita secara inklusif saat ini.

Dhanielle Daphne dan Zahra Muzdalifah, atlet sepakbola wanita Indonesia, turut menjadi pembicara pada diskusi tersebut. Bersama Souraiya Farina Alhaddar perwakilan dari PSSI, dan Sita Sumrit, Divisi Poverty Eradication and Gender.

PSSI sendiri mulai melek soal sepakbola wanita, dan terus menggencarkan program untuk mendukung area tersebut. Tahun ini, PSSI sudah mewajibkan klub Liga 1 untuk mengirim tim wanita dan ikut berkompetisi pada Liga 1 Putri 2019.

“Peranan kami di sepakbola Indonesia saat ini terbilang menantang, karena selama ini sepakbola wanita belum tersentuh. Saya coba membuktikan bahwa memang olahraga ini untuk umum, termasuk wanita,” ungkap Zahra.

Sementara itu, Daphne yang mulai menyukai sepakbola ketika Piala Dunia 2006, menuturkan bahwa olahraga ini sangat menarik dan mengubah hidupnya. Ia pun merasa perhatian untuk sepakbola wanita harus lebih bagus.

“Saya merasakan bagaimana harus bangun pagi untuk latihan, dan mungkin latihan lagi pada sore hari. Disiplin dalam mengatur waktu, dan bagaimana sebelas orang dengan latarbelakang berbeda bisa berjuang untuk satu gol,” urainya.

Bukan hanya sebagai atlet, wanita dalam sepakbola juga punya peran di belakang layar. Seperti halnya Souraiya yang sudah bekerja di PSSI sejak 2006. Ia menjelaskan, bahwa sepakbola sudah menjadi bagian hidupnya.

“Saya pertama kali jatuh cinta sepak bola setelah menonton Piala Dunia 1994. Saat itu saya suka sekali dengan Roberto Baggio (saat itu pemain timnas Italia). Saya menyukai Juventus, dan saya pikir sepakbola sudah jadi bagian penting di hidup saya.”