July 02, 2020

Tim Rugby Selandia Baru Sumber Inspirasi Pelatih Liverpool Jurgen Klopp

Jurgen Klopp menjelaskan bagaimana tim rugby paling terkenal di dunia telah membantu kariernya. 

Bos Liverpool tersebut mengungkap, di awal kariernya bersama Mainz dia terkesan dengan sebuah film dokumenter tentang tim All Blacks Selandia Baru yang memiliki semangat, mentalitas kuat dan berani berkorban demi jersey yang mereka kenakan. 

Saat konferensi pers jelang trip ke markas Manchester City, Klopp bercerita bagaimana dia bekerja untuk Mainz dan bahkan membuat para pemainnya mendengarkan ‘Haka’ sebelum berlaga demi membangkitkan semangat. 

“Saya pikir itu terjadi di pramusim pertama saya,” bukanya. “Di masa rehat musim panas, saya menonton film dokumenter ini. Para raksasa itu membuat saya terkesan, dan juga bagaimana cara mereka berbicara.”

“Ketika itu All Blacks adalah tim rugby terkuat di dunia. Persentase kemenangan mereka lebih dari 70 persen. Itu sangat impresif.”

“Mereka bekerja sebagai tukan daging, tukang bangunan, hal-hal seperti itu dan mereka membicarakan masa lalu dan apa artinya bermain untuk tim.”

“Di Mainz, dua menit sebelum bus tiba di stadion untuk bertanding, kami biasa mendengarkan Haka, sehinggi ketika pintu terbuka suaranya terdengar sangat keras! Untuk membangkitkan semangat.”

“Mereka adalah All Blacks, dan di Mainz kami menyebut diri sendiri All Reds! Tidak ada yang menyadari itu karena kami adalah tim kecil. Tetapi itu artinya sangat besar bagi kami. Begitulah awalnya.”

“Saya tidak tahu bagaimana pengaruhnya kemudian tetapi jika Anda bertanya kepada para pemain, mereka menyukai itu. Tidak ada yang tertarik pada tim kami, namun kami menyayangi diri sendiri.”

Di Mainz, Klopp berhasil meraih promosi ke Bundesliga pada 2004, dan untuk pertama kalinya klub tampil di kasta tertinggi sepakbola Jerman. 

16 tahun berlalu, dia sukses membawa Liverpool ke tangga juara liga untuk pertama sejak 1990. 

Di Melwood, dia berjanji the Reds akan meniru All Blacks yang tidak terbuai kesuksesan dan bakal melanjutkan kerja keras demi memburu kesuksesan lainnya. 

“Saya mempelajari sesuati. Ketika Anda merasa telah berada di puncak, maka Anda sedang membuka jalan menuju ke bawah,” lanjutnya. 

“Kami tidak merasakan itu. Saya belum puas. Ini hanya langkah lainnya, satu langkah besar, sangat besar. Tetapi satu hal yang ingin saya katakan pada para pemain adalah tentang ketika saya bertemu lagi dengan mereka dalam 20 tahun ke depan.”

“Selama Anda mengenakan jersey ini, mengeluarkan kemampuan kurang dari 100 persen tidak akan dibiarkan. Itu tidak ada dalam kamus saya. Saya mempelajari ini dari film dokumenter All Blacks.”

“Dan itu untuk pemain LFC, juga saya. Itulah yang saya lakukan untuk tetap hidup.”